Saya tinggal cukup lama di sebuah kota kecil bernama Polewali, sekarang masuk wilayah Sulawesi Barat. Ada sebuah kejadian mengerikan yang pernah terjadi disana dan membekas di ingatan saya. Waktu itu seorang gadis diperkosa segerombolan pria yang sedang mabuk. Tak butuh waktu lama polisi menangkap mereka. Saya ingat melihat mereka diarak dengan kepala yang sudah digunduli dan hanya mengenakan celana dalam.
Polewali hampir seperti Wind Gap, kota kecil yang menjadi latar pembunuhan 2 gadis remaja dalam serial Sharp Objects. Kejadian semengerikan sudah pasti membuat kota yang biasanya adem menjadi bergejolak. Orang-orang bergunjing, keluarga para korban tersudut, bahkan nyaris tersungkur dalam duka.
Saya membayangkan mengunjungi kembali Polewali seperti Camille mengunjungi kota kelahirannya setelah puluhan tahun meninggalkannya. Sekelebat trauma dan kenangan masih tertinggal disana.
Pembunuhan punya efek tertentu ke sejumlah orang. Saya belum pernah merasakan begitu dekat dengan kisah semacam itu, namun membayangkannya saja membuat bergidik. Rasanya seperti diintai Malaikat Maut yang sewaktu-waktu bisa memutus nyawa seseorang tanpa ampun. Ann dan Natalie, yang nyawanya dirampas paksa, bisa saja orang yang kita kenal dekat. Dan kita tak pernah tahu apa yang ada di kepala seseorang yang nekat menghabisi nyawa keduanya.
Dalam sebuah episode dari kehidupan kita, bisa saja terjadi kejadian tak diinginkan. Dan kita bisa merespon dengan cara apapun. Bagi Camille, itu berarti berhadapan dengan trauma dan kenangan yang sebenarnya ingin dibuangnya jauh-jauh. Tapi bagaimana kita menjejaki hari ini dan nanti jika kita memilih memalingkan muka dari masa lalu?

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY