Home FILM Ketika Cinta Dibatasi Oleh Waktu

Ketika Cinta Dibatasi Oleh Waktu

Film Eggnoid [2019] - Tayang di Netflix

5
0
SHARE
Ketika Cinta Dibatasi Oleh Waktu

Kita berada di dunia yang bising. Sebuah tempat yang berebut perhatian. Sebuah tempat ketika kelahiran kembali dipertontonkan dan kita tak mendapatkan kebaruan didalamnya. Lantas masih adakah tempat untuk ide-ide menarik yang mencelat dari kebiasaan?

Di film, ide adalah dewa. Kita terkagum-kagum ketika Steven Spielberg, sekali lagi, meneropong masa depan di A.I Artificial Intelligence. Kita tidak pernah menyangka bahwa kisah robot canggih bisa semenyentuh itu. Di Eggnoid: Cinta dan Portal Waktu, terasa ada kesamaan premis walau sangat tipis, yang sayangnya ceritanya pun dibuat sangat tipis.

Jika A.I punya David, maka Eggnoid punya Eggy [Morgan Oey]. Ia digambarkan bukanlah robot, namun manusia dari masa depan yang dikirim untuk melayani Ran [Sheila Dara Aisha]. Motivasinya digambarkan melalui sepotong dialog: Eggy harus menjadi support system bagi Ran agar ia tak jatuh kembali menjadi manusia yang depresif. Tapi ada sejumlah syarat yang harus dipatuhi Eggy agar misinya sukses. Syarat yang paling utama dan akhirnya menjadi paling sulit buatnya adalah tak boleh jatuh cinta pada Ran.

Syarat utama keberhasilan sebuah film adalah membuat percaya penonton akan kisahnya semustahil apapun. A.I berhasil membuat penonton trenyuh dan tersadar akan koneksi humanis karena ia berhasil menceritakan motivasi pembuatnya, Profesor Hobby, ketika menciptakan David. Di Eggnoid, kita memang terpesona melihat betapa asyiknya chemistry Sheila dan Morgan, namun karena tak banyak durasi yang diberikan untuk membangun kedekatan mereka sedari Ran masih dalam tahap depresi, maka kita tak diberi kesempatan untuk terkesan dengan perjuangan Eggy menjadi bagian penting dari kehidupan Ran. Yang terlihat di layar adalah bagaimana Eggy menahan diri untuk tak tertarik pada Ran. Di sebagian besar durasi film, kita hampir lupa bahwa Eggy adalah manusia dari masa depan, bukan sekedar pemuda jaman sekarang.

Padahal ada kesempatan besar bagi pembuat film untuk memberi narasi lebih dari cerita yang diadaptasinya. Sayangnya memang yang terjadi semata adaptasi, bahkan mungkin simplifikasi. Berbeda sekali dengan A.I yang membongkar ingatan penonton akan kisah pahit manis Pinokio karya Collodi. Eggnoid juga sesungguhnya bisa memanfaatkan isu time travel [perjalanan waktu] sebagai bagian penting dari cerita, sebagaimana Richard Curtis menggunakannya secara efektif dalam About Time. Namun apa boleh buat, isu ini hanya digunakan di sebuah adegan ketika Eggy membawa Ran mengunjungi masa kecilnya.

Materi cerita seperti Eggnoid ini sungguh sebuah kemewahan yang selayaknya bisa didorong untuk membicarakan sejumlah hal penting lain dibanding sekedar urusan cinta belaka. Tapi mungkin itu yang bisa dijual untuk anak muda Indonesia. Mungkin mereka tak tertarik dengan depresi yang menimpa Ran. Mungkin mereka tak tertarik dengan bagaimana Tante Diany masuk ke dalam kehidupan Ran dan menjadi pengganti orangtua baginya. Mungkin mereka tak tertarik dengan bagaimana akhirnya Ran yang depresif menjadi seorang game developer sukses. Entahlah.

Video Terkait: