Tahun 2022. Untuk pertama kalinya film Indonesia menyentuh pencapaian jumlah penonton hingga 10 juta orang melalui film KKN di Desa Penari. Tapi ada 2 film horor lainnya yang diingat pecinta film atas pencapaian teknis dan artistiknya.
Kedua film tersebut adalah Qodrat dari sutradara Charles Gozali dan Inang yang dibesut Fajar Nugros. Judul pertama dipujikan atas keterampilan Charles mendorong pencapaian teknis dan menjadikan film horor lokal ke level yang baru sementara judul terakhir diingat berkat komentar sosialnya yang tajam dipadukan dengan thriller yang juga memikat.
Tahun ini film horor masih berjaya di box office. Waktu Magrib masih menjadi film horor terlaris tahun ini dan juga ada Sosok Ketiga yang secara mengejutkan juga menembus target box office sejuta penonton. Sayangnya keduanya tak memberi pencapaian baru baik dari sisi teknis maupun artistik.
Maka Primbon yang datang dari duet sutradara Rudi Soedjarwo [dengan comeback sukses Sayap-Sayap Patah tahun lalu dan pernah membesut Pocong yang cemerlang] dan penulis skenario Lele Leila [melahirkan banyak film horor laris termasuk Danur yang fenomenal] menjadi tumpuan harapan bagi sineas sekaligus penonton seperti saya. Trailernya terbilang menarik dengan ensemble cast menjanjikan, pun poster yang meski sederhana namun masih menyisakan aura misteri yang kuat. Tapi apakah Primbon betul-betul bisa mewujud menjadi film horor berkualitas?
Dari sisi ide cerita, Primbon menawarkan premis menarik. Bagaimana primbon yang dulunya menjadi kompas bagi masyarakat Jawa dalam pelbagai segi kehidupannya berhadapan dengan ketidakpercayaan mereka yang bukan Jawa terutama soal hari-hari sial. Dalam primbon, terdapat kepercayaan akan empat sifat dari hari yang buruk, keempatnya adalah hari taliwangke [hari sengkala], samparwangke [hari sengkala], kunarpawarsa [tahun bencana], dan sangarwarsa [tahun bencana]. Sementara itu sifat dari hari baik ada tiga, yaitu bulan rahayu [bulan baik], bulan sarju [bulan sedang], dan Anggara Kasih. Karenanya primbon berfungsi sebagai pedoman untuk menentukan sikap dalam suatu tindakan dalam kehidupan.
Primbon dibuka dengan menarik. Kita melihat adegan tahlilan dari Rana yang dinyatakan hilang di hutan selama berhari-hari. Keluarga dari pihak ayahnya, Banyu, menyelenggarakan tahlilan itu karena meyakini Rana tak mungkin selamat. Sementara ibunya, Dini, masih merasakan keberadaan Rana dan sebenarnya tak setuju dengan tahlilan itu. Belum lagi hilang ketegangan yang dibangun atas pertentangan itu, Rudi langsung menyajikan ketegangan baru: Rana pulang setelah semua hadirin tahlilan kembali ke rumah masing-masing.
Sayangnya adegan pembuka yang menarik ini menjadi satu-satunya hal menarik dari film ini. Saya membayangkan Rudi dan Lele bisa lebih berani membenturkan kepercayaan Islam dan Jawa dalam soal primbon sehingga pertentangan akan semakin meruncing, dari Jawa dan bukan Jawa menjadi Islam dan Jawa. Saya juga membayangkan soal bagaimana primbon berperan penting dalam kehidupan Banyu dan keluarganya, bukan sekedar tempelan 1-2 adegan atau sekedar dialog yang meluncur dari mulut bude-budenya Rana. Sayangnya itu tak terjadi. Jadinya terasa primbon sekedar sebagai kendaraan untuk memperlancar cerita, bukan sebagai pusat semesta cerita.
Dan karena skenario tertatih-tatih memasukkan unsur primbon ke dalam cerita membuatnya justru terasa tak menawarkan kebaruan apapun. Padahal ada sub-plot yang bisa diolah sehingga soal primbon tak sekedar tempelan. Plot soal Bagas, keponakan Banyu, yang menghilang di hari nahas sesungguhnya menarik dieksplorasi demi mempertajam soal hari buruk dan hari baik dalam primbon. Dan kepergian Rana ke hutan di hari nahasnya pun tak dieksplor lebih jauh padahal inilah akar dari segala masalah yang ada di film ini.
Saya tak mempermasalahkan bagaimana Primbon akan lebih dikenang penonton sebagai film drama ketimbang horor karena unsur dramanya yang kuat dan Rudi memang punya kecakapan khusus menangani departemen drama. Saya hanya menyayangkan bagaimana premis dan judul yang potensial ini tak dieksploitasi habis-habisan oleh skenario sehingga sebagai penonton kita bisa mendapatkan perspektif baru dan menarik terkait bagaimana masyarakat Jawa menyikapi primbon di jaman modern.
Saya juga menyayangkan begitu banyaknya karakter yang lalu lalang di Primbon yang tak dimanfaatkan dengan maksimal. Selain Happy Salma sebagai Dini dan Seroja Hafiedz yang bermain cemerlang, karakter-karakter menarik dari para aktor seperti Nugie, Chicco Kurniawan hingga Septian Dwi Cahyo juga cenderung sekedar dihadirkan begitu saja. Terutama karakter Janu yang diperankan Chicco yang sesungguhnya menjadi sosok kunci dalam film ini.
Karenanya setelah Primbon, adakah film horor lokal yang rilis tahun ini di bioskop yang masih bisa menghadirkan pencapaian baru? Atau jangan-jangan film horor kita akan jalan di tempat tahun ini?
PRIMBON
Produser: Yoen K
Sutradara: Rudi Soedjarwo
Penulis Skenario: Lele Leila
Pemain: Happy Salma, Flavio Zaviera, Nugie

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY