“Justru ketika kita kehilangan harapan, hal-hal baik akan terjadi.”
Momo, seorang anak imigran ilegal dari Senegal, dibesarkan di jalan. Dengan cara yang luar biasa, Momo dipertemukan dengan Rosa, mantan pelacur yang merawat sejumlah anak yang dititipkan kepadanya. Dari saling benci, keduanya pelan-pelan saling memahami dam berbagi rahasia paling kelam.
Masa lalu kadang jadi rahasia paling kelam dan kita ingin menguburnya dalam-dalam. Namun sering kita lupa bahwa masa lalu itulah yang membentuk kita di masa depan. Masa lalu bukan untuk dilupakan namun untuk kelak dijadikan pegangan.
Momo dan Rosa berusaha saling memahami. Mungkin seperti seorang cucu dan neneknya yang berbeda generasi dan berbeda pandangan. Namun di satu titik semuanya kabur dan akhirnya bertemu. Bahkan di beberapa adegan, terasa sekali situasi emosional antara keduanya. Momo membantu Rosa melewati masa tuanya dengan susah payah dan Rosa membantu Momo melewati masa kecilnya dengan segenap pengalaman tak menyenangkan.
Yang terjadi adalah saling mengerti. Yang terbentuk akhirnya saling memahami. Kita sebagai manusia dengan segenap kompleksitas yang kita punya pada akhirnya tak perlu lagi melawan takdir. Kita akan menemukan jalan kita masing-masing.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY