Di bawah langit penuh bintang, ayahnya meminta Ruby bernyanyi.
Sekilas ini sebuah permintaan sederhana namun ketika kita tahu ayah, ibu dan kakak laki-lakinya penyandang tuna rungu, kita tahu betapa sulit mereka mengerti keinginan Ruby untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah musik prestisius. Selalu ada keraguan, "betulkah suaranya bagus?" yang sekali waktu terlontar dari mulut ibunya.
Tapi musik tak hanya mengalun lewat suara, ia juga menjalar lewat rasa. Ayahnya mencoba memegang leher Ruby, demi menangkap tarikan otot-otot suara di lehernya. Mata ayahnya basah dan kita lantas tahu, Ruby mendapat restu untuk bernyanyi.
Dengan segala kesederhanaan yang dimilikinya, CODA [Child of Deaf Adult] mengingatkan kembali film punya daya sihirnya sendiri. Kita ditarik masuk ke sebuah situasi tak terbayangkan: seorang gadis yang dibesarkan oleh keluarga yang seluruhnya penyandang tuna rungu. Dan kita merinding ketika tahu keinginannya yang sederhana: ia ingin bernyanyi.
Emilia Jones menjadi pengikat segala sihir di layar itu. Kompleksitas perasaan dan hidup yang melingkupinya terwakili melalui lagu-lagu yang disuarakannya keras-keras, melalui rasa tidak percaya dirinya dan terutama melalui caranya berkomunikasi dengan anggota keluarganya. Di pundaknya, kita bisa melihat dengan jelas betapa sulitnya Ruby beradaptasi di kehidupan sosialnya yang normal dan hidup bersama keluarganya sendiri.
Ruby hidup di antara dua dunia. Tapi ia harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa hidup di dunianya sendiri.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY