Home SERIAL Belajar Dari Frustrasi, Penyesalan, Trauma dan Masa Lalu

Belajar Dari Frustrasi, Penyesalan, Trauma dan Masa Lalu

Serial Tiny Beautiful Things [2023] - Tayang di Disney Plus

2
0
SHARE
Belajar Dari Frustrasi, Penyesalan, Trauma dan Masa Lalu

Tahun 2012. Cheryl Strayed menggunakan nama anonim Sugar untuk sebuah kolom yang diasuhnya di majalah online, The Rumpus. Dan siapa sangka 10 tahun kemudian, masalah-masalah yang muncul dari kolom tersebut mewujud menjadi sebuah serial di Disney Plus.

Bisa jadi kita pertama kali mendengar nama Cheryl ketika menyaksikan film Wild yang dibintangi Reese Witherspoon. Film tersebut memang diadaptasi dari novel yang ditulisnya yang meraih sukses besar. Salah satu kelebihan Cheryl adalah kejernihannya menggaungkan perasaan-perasaan terdalam dan mendasar manusia tanpa membuat pembaca/penonton merasakannya berlebihan.

Dan itu pula lah yang bisa kita temukan di serial Tiny Beautiful Things yang diadaptasi dari kumpulan esai Cheryl ketika merespon persoalan-persoalan pembacanya dari kolom yang diasuhnya. Cheryl tak sekedar bersimpati namun ia juga ikut merasakan dan merefleksikan pengalaman pribadinya dengan apa yang sedang dialami pembacanya. Meski bisa jadi terkesan feminim, serial ini toh tetap bisa terkoneksi dengan siapapun tanpa bias jender.

Mari berkenalan dengan Clare Pierces, seorang wanita yang memasuki usia 50 tahun dan merasakan hidupnya jungkir balik. Pernikahannya di ambang perceraian yang menyebabkan ia keluar dari rumah, putri semata wayangnya tak lagi menyukainya, suaminya pun marah besar terhadapnya dan ia pun tak bisa berkonsentrasi penuh dengan pekerjaannya. Tapi satu hal yang Clare bisa: ia bisa penuh empati pada siapapun.

Dan empati itu menemukan salurannya ketika ia ditawarkan oleh seorang teman lama untuk mengasuh kolom Dear Sugar. Clare tak pernah menyangka bahwa mengasuh kolom itu juga menjadi semacam terapi penyembuhan bagi dirinya. Ia membiarkan dirinya kembali menyusuri masa lalu, melihat lagi hubungannya yang spesial dengan ibu dan adik laki-lakinya dan masih sulit memaafkan ayahnya yang di matanya melakukan dosa tak berampun. Tapi bisakah kita mengandalkan ingatan yang kita miliki untuk menghakimi masa lalu?

Dituturkan secara inventif tanpa membuat pusing antara masa lalu dan masa kini membuat Tiny Beautiful Things juga bisa menjadi semacam medium bagi penonton untuk merefleksikan apa saja yang sudah dilalui selama hidupnya. Saya pernah merasakan banyak hal yang pernah dialami Clare: pada satu titik dalam hidup, saya pernah merasakan frustrasi berat hingga depresi, ada beberapa periode dalam hidup yang mungkin saya sesali dan jika bisa ingin mengulangnya menjadi lebih baik. 

Dan trauma adalah satu hal dalam hidup yang seringkali terasa mengejar terus menerus seperti dosa. Tapi ada satu titik dalam hidup dimana trauma memang mesti dihadapi, bagaimanapun beratnya. Dan trauma yang berasal dari masa lalu yang sering menjadi luka menganga hingga kini juga perlu disembuhkan.

Clare adalah salah satu tokoh favorit saya justru karena ia punya kelemahan segudang. Ia justru sama sekali tidak sempurna. Tapi ia dengan besar hati mengakui kelemahan-kelemahan itu, mencoba memperbaikinya dengan susah payah dan mencoba berdamai dengan masa lalunya agar ia bisa merasakan kedamaian di masa kini. Dan di usia 50, apa lagi yang paling penting dalam hidup selain menemukan kedamaian?

Tiny Beautiful Things membongkar borok-borok yang sebagian dari kita pernah alami. Seorang ibu akan dengan mudah terkoneksi dengan Clare yang merasakan susahnya untuk berkomunikasi kembali dengan anak gadisnya. Seorang istri akan dengan mudah merasa relevan dengan Clare yang merasakan susahnya kembali mendapat kepercayaan dari suami setelah pengkhianatan terjadi. Dan seorang manusia akan mudah trenyuh dan berempati dengan Clare dengan segala hal yang dijalaninya dalam hidup yang kocar-kacir namun masih bisa membantu orang lain melalui kolom Dear Sugar.

Pada akhirnya kita tahu bahwa belajar dari pengalaman hidup artinya belajar dari frustrasi, penyesalan, trauma dan masa lalu. Dan dalam proses itu kita membiarkan diri kita menjalani ikhlas. Kita membiarkan diri kita terbentur terus menerus agar bisa kembali terbentuk. Dan setelah segala badai yang dialami Clare, juga dialami oleh kita, sebagaimana kata Haruki Murakami, bisa jadi kita bukan lagi menjadi orang yang sama. Bisa saja kita justru menjadi orang yang lebih baik.

Video Terkait: