<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS RESENSI -REVIEW FOR ALL!</title> 
				<description>Resensi terpercaya tentang film, serial, buku dan beragam sektor kreatif lainnya</description>
				<link>https://resensi.my.id/</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>Ini Dia The Other Bond</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/ini-dia-the-other-bond</link>
						                <description>Change is good. Saya selalu percaya dengan itu, dan selalu menyemangati mereka yang tak mau stagnan. Punya keberanian meninggalkan comfort zone. Maka ketika terdengar berita bahwa James Bond akar berganti pemeran dengan tampilan fisik yang jauh dari “pola-nya”, saya pun menyambut positif. Jika sebelumnya Bond selalu digambarkan flamboyan dan bersikap gentle terhadap wanita, maka kali ini Bond di tangan Daniel Craig berubah total. Ia menjelma menjadi the other Bond, sungguh berbeda dari yang pernah dilakoni Sean Connery, Roger Moore hingga Pierce Brosnan.. Bond yang ini digambarkan oleh rekan saya yang telah menonton duluan film ini sebagai “preman pasar”. Saya terbahak mendengarnya, dan berharap komentar itu sesungguhnya positif.

Casino Royale menjadi babakan baru dari salah satu film franchise yang paling menguntungkan yang pernah dibuat Hollywood. Saya kagum dengan keberanian tim yang berdiri di belakangnya. Rasanya sebelum memilih Daniel Craig sebagai Bond terbaru, mereka sudah pernah berhitung dengan segala resiko, juga telah mempelajari dengan seksama karakter yang tepat untuk Bond Blonde (James Bond yang berambut pirang). Dan akhirnya resiko diambil dengan mengubah banyak hal dari Bond, termasuk hal yang paling diingat oleh penonton setianya. Bayangkan ini, Bond versi Craig adalah Bond yang keras hati dan kasar, juga tak mudah tergoda oleh wanita. Ia tak segan membunuh segala rintangan yang menghalanginya. Itu diperlihatkan sejak menit pertama film bergulir. Tanpa kompromi, tim penulis yang terdiri dari Neal Purvis, Robert Wade dan Paul Haggis memperlihatkan total makeover dari Bond. Dari openingnya saja jelas menyiratkan bahwa kali ini Bond memasuki dimensi baru.

Keterlibatan Haggis saya rasa juga turut menyumbang keberhasilan perubahan karakter Bond. Haggis yang disegani berkat karyanya yang cemerlang, Million Dollar Baby dan Crash, membuat penonton seperti saya tak sabar menyaksikan akan seperti apa Casino Royale. Dan rasanya Haggis bisa menunaikan tugasnya dengan baik. Menyimak film ini seperti dibawa mengendarai rollercoaster. Asyik sekali menyaksikan betapa mood penonton dibuat turun naik oleh cerita. Tak ada lagi Bond yang mengandalkan gadget super canggih, kini jamannya Bond yang bisa berkelahi dengan sengit hanya dengan bantuan senjata saja. Kali ini Bond pun nyaris dibuat hampir mati. Saya hampir jantungan ketika cerita membawa ke arah yang tak terduga, sayangnya tak bisa dibahas disini karena akan mengurangi keasyikan bagi yang belum menontonnya. Yang bisa saya ceritakan dan juga paling mencengangkan saya adalah ketika Bond tak lagi mempedulikan apakah minumannya harus di-“shaken or stirred”. Padahal ini adalah hal paling teringat oleh penonton setianya.

Saya rasa perubahan yang ditempuh Casino Royale bisa membuat penonton setianya meninggalkannya, tapi di sisi lain juga akan menggaet penonton baru seperti saya misalnya. Bosan juga rasanya melihat Bond yang tergolek – golek dengan wanita cantik, tapi hubungannya sangat instan. Beda dengan disini di mana Bond bisa dibuat patah hati oleh Vesper Lynd (dimainkan dengan cemerlang oleh Eva Green, yang saya kagumi sejak penampilannya di The Dreamers). Teman saya yang bersama menonton film ini dan termasuk penonton setia Bond yang datang dengan ekspektasi meremehkan, mau tak mau harus mengakui bahwa perubahan ini adalah sesuatu yang baik.

Begitupun, ada juga yang menyayangkan kadar action-nya yang konon berkurang. Mungkin memang iya, tapi kadarnya jadi lebih keras dibanding sebelumnya. Saya pun sekali lagi harus acung jempol pada tim produksi yang berani sekali mengambil resiko untuk sebuah franchise yang telah menyedot ratusan juta penonton di seluruh dunia. Kita lihat saja, apakah perubahan ini juga direspon pasar dengan baik, sehingga kita akan bisa menyimak Craig dalam jangka waktu lama memainkan peran ini.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Puisi Untuk Alam Raya </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/puisi-untuk-alam-raya-</link>
						                <description>Nafas JIFFest (Jakarta International Film Festival) nyaris berhenti berdetak. Dan para pecintanya pun hampir saja berteriak pilu. Betapa tidak, JIFFest dianggap sebagai sebuah etalase untuk menikmati potret dari beragam wajah manusia di berbagai belahan bumi. Lewat festival tahunan itu, kita diajak melihat apa yang terjadi di belahan dunia nun jauh disana. Juga diajak memahami segala problematika yang terjadi. JIFFest juga menjelma sebagai tempat bagi para pecintanya untuk menemukan “pengucapan” baru dalam medium audio visual. Jika JIFFest tercerabut dari tanah air, maka dimanakah kita bisa menemukan mutiara-mutiara dari perfilman internasional?

JIFFest tahun ini menemukan sebuah mutiara dari Turki. Dari Semih Kaplanoglu yang mencoba menggenapi trilogi filmnya yang sebelumnya berjudul Egg (rilis 2007) dan Milk (edar tahun 2008). Kaplanoglu mengajak kita mendalami alam raya dengan caranya yang puitis. Lewat sudut pandang Yusuf (Boras Altas), bocah 6 tahun nan menggemaskan, bergulirlah Honey.

Dengan pendekatan sinematografi yang cenderung apa adanya, Kaplanoglu mencoba memikat hati penontonnya. Rindangnya pepohonan ditingkahi hubungan antara ayah dan anak yang terekam dengan memikat menjadi pesona tersendiri dari Honey.

Yusuf yang terbiasa diajak sang ayah, Yakub (Erdal Besikcioglu) mengarungi hutan pelan-pelan terpesona dengan hutan nan rupawan. Sang ayah juga membuatnya makin cinta dengan mengenalkannya pada tetumbuhan, pada bunga dengan wanginya yang khas hingga pada burung yang beterbangan dengan bebas. Sang ayah adalah seorang petani madu yang menggantungkan hidupnya dengan mencari sarang lebah di hutan. Kedengarannya sederhana, namun sesungguhnya pekerjaan Yakub rentan dengan bahaya. Terkadang ia harus menjat pohon yang teramat tinggi demi menjangkau sarang lebah. Dengan teliti, Yusuf rajin mencermati kegiatan yang dilakukan ayahnya. Hingga suatu hari, sesuatu terjadi. Lebah-lebah itu menghilang tanpa bekas. Dan Kaplanoglu pun menggiring penonton untuk menemukan sebuah kejutan. Sensasi yang tak terasa nyaman di hati penonton namun memang menjadi resiko dari kehidupan yang harus dijalani.

Honey dituturkan Kaplanoglu tanpa bantuan musik. Sama sekali. Ketika elemen itu dihilangkan, apa yang paling mungkin terjadi? Tentu saja adalah sebuah kesunyian. Sebuah sepi. Dan disaat bersamaan adalah sebuah ketenangan. Pendekatan ini diambil Kaplanoglu tentu saja bukan tanpa alasan. Selain karena materi yang dipunyainya tak mempermasalahkan ada atau tidaknya musik, sesungguhnya bisa jadi juga karena sutradara cukup percaya diri dengan materi di tangannya. Meski terkesan simpel, tak bisa dipungkiri bahwa Honey berhasil melewati rintangannya sebagai film tanpa musik (dan tanpa membuat penonton bosan) karena skenario cemerlang yang dimilikinya. Dan ia tahu bagaimana menerjemahkan skenario yang ditulisnya bersama Orcun Koksal itu.

Namun kekuatan utama yang dipunyai terletak pada faktor pemain. Altas yang masih belia akhirnya harus menanggung beban berat di pundaknya. Jika tak cakap berolah mimik wajah dan berinteraksi dengan baik dengan sekelilingnya maupun para pemain lainnya, niscaya Honey menjadi film yang dengan segera bisa masuk tong sampah. Dan Kaplanoglu berhasil mengarahkan Altas. Rasanya sebagian besar penonton boleh jadi terkesima dengan Yusuf yang punya screen persona nan kuat. Kepolosannya menjadikan kita melupakan bahwa "Honey" mengalir tanpa bebunyian yang direkayasa. Film ini hanya merangkum sumber bunyi yang tercipta dari alam, dari gemericik air di sungai, bunyi khas hutan hingga kicau burung yang melayang di udara.

Dengan pendekatan yang dipilihnya, Honey memang cenderung gampang dijauhi penonton mainstream. Namun bagi mereka yang menyenangi hal baru, pendekatan Kaplanoglu pun menjadi “pengucapan” baru. Mungkin terasa asing, namun lama-lama ternyata tak mengecewakan. Mencoba saja menikmatinya dan akhirnya terbuai oleh gambar yang puitis dengan kisah yang juga terkesan liris.

Honey juga bisa jadi membuka mata filmmaker muda Indonesia. Bahwa ternyata kita bisa mendobrak pakem yang sudah ada dengan tanpa mengurangi kualitas karya yang dibuat. Lihatlah Honey yang mengoptimalkan segala elemen yang dipunyainya hanya dengan “mengorbankan” satu elemen yang memang terkesan amat penting dalam karya audio visual belakangan ini : musik.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Foto, Kelas Sosial Dan Cinta </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/foto-kelas-sosial-dan-cinta-</link>
						                <description>Tak pernah ada catatan resmi yang menyebutkan mulai terbentuknya “kelas-kelas” yang ada di dalam masyarakat. “Kelas-kelas” itu memang tak pernah diucapkan dengan lantang, namun terasa mengalir dalam udara yang dihirup oleh masyarakat. Mulailah pengkotak-kotakkan dengan istilah “kelas menengah atas”, “kelas bawah” ataupun “kaum jetset”.

Pengkotak-kotakkan seperti itu tentu punya eksesnya sendiri. Orang dibedakan hanya dari apa yang dimilikinya secara fisik, bukan dari keseluruhan yang dipunyainya (termasuk yang sifatnya non material). Maka hanya ada orang kaya dan orang miskin, sementara orang pintar dan bodoh cenderung tak dianggap berlaku di dalam sistem masyarakat.

Ulf Malmros dengan cerdik memilih pendekatan komedi untuk menyentil soal pengkotak-kotakkan itu. Dengan bertingkah jenaka, penonton cenderung tak sadar bahwa sebenarnya dirinya lah yang tengah diolok-olok oleh kreator film. Dan itulah yang terjadi pada film The Wedding Photographer. Profesi fotografer pernikahan menjadi jalan masuk bagi Malmros untuk mengobrolkan hal yang lebih besar.

Fotografer itu bernama Robin (Bjorn Starrin). Don’t judge the book by its cover sungguh pantas disematkan pada pemuda 29 tahun itu. Jangan lihat tongkrongannya yang sangar : rambut panjang menyentuh pundak, tindik dimana-mana hingga tato berseliweran di tubuh. Di balik itu semua, ternyata Robin punya talenta alami. Foto-foto yang sepintas diambilnya tak sungguh menghasilkan gambar dengan citarasa nan menarik. Robin sesungguhnya tak pernah punya cita-cita jadi fotografer profesional, namun ketika pabrik tempatnya bekerja akhirnya ditutup, ia tak punya pilihan untuk bertahan hidup.

Sebuah “kecelakaan” membuat Robin masuk ke dalam kelas jetset yang biasanya hanya dilihatnya di televisi atau majalah. Ia beroleh pekerjaan memotret perkawinan dari putri seorang multi jutawan. Penonton tahu bahwa Robin “salah tempat”, dan disinilah moral film mulai dituturkan. Meski terkesan slengekan, sebenarnya pemuda itu punya kecakapan beradaptasi yang mengagumkan. Tak butuh waktu lama ia sadar bahwa “dirinya” tak berada di tempatnya. Jalan satu-satunya adalah mengubah diri secara total. Rambut dipotong pendek, tata cara berpakaian diubahnya, ia pun bahkan serius mempelajari tata krama kalangan elit.

Keputusan itu membuat Robin larut. Ia bahkan seperti kehilangan identitas. Jika dulu ia cenderung acuh dengan status sosial, kini ia mencemooh kalangan menengah bawah seperti dirinya dulu. Di saat bersamaan, ia pun jatuh cinta. Disinilah dilemanya. Bagaimana Robin menentukan sikap diantara kelas sosial yang melekat pada dirinya, juga dengan cintanya.

Meski beraroma komedi, Malmros tak sudi menjadikan filmnya sebagai bahan olok-olok. Maka perubahan fisik Robin tak dijadikannya sebagai senjata dalam menguras tawa. Terlalu tipikal jika The Wedding Photographer juga mengadopsi cara bertutur serupa. Malmros lebih brilian mengolah skenario yang dipunyainya dan tahu waktu yang tepat untuk meletupkan tawa penonton. Dan itu dilakukan juga tidak dengan membuat aktornya menjadi komedian. The Wedding Photographer menciptakan kelucuan dari situasi yang dibangun, juga dari kritik yang sesungguhnya pedas namun terasa lancar mengalir.

Malmros mengajarkan para filmmaker negeri ini bagaimana cara mengkritik dengan elegan. Ia nyinyir mengomentari bagaimana kemunafikan kaum jetset sekaligus menyimak cara pandang kaum menengah bawah terhadap kalangan atas. Dan semuanya ditampilkan lewat visual, bukan lewat dialog para karakternya sehingga terdengar seperti ceramah. Kita, para penonton, pun tertawa terbahak-bahak dan kita sadar bahwa diantara kita banyak yang sesungguhnya menertawakan diri sendiri.

Maka durasi 113 menit itupun tak terasa berlalu. Dan tak terasa pula bagaimana Malmros menjejalkan banyak pelajaran moral pada karyanya kali ini. Tapi kita tak tersinggung. Kita tahu bahwa ada yang salah dengan sistem kelas yang masih saja terus berkembang di seantero dunia. Tapi kita tak bisa berbuat banyak kecuali bersatu. Karena hidup adalah pilihan. Tak ada yang salah dengan orang yang nyaman dengan hidup hanya dengan mengandalkan pekerjaan sebagai buruh pabrik. Dan rasanya ada sesuatu yang salah ketika melihat orang kaya yang cenderung dirongrong ketakbahagiaan yang seakan tak berujung.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Bagi Rabiah dan Mimi, Hidup Adalah Pengabdian</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/bagi-rabiah-dan-mimi-hidup-adalah-pengabdian</link>
						                <description>Tahun 2006. Untuk pertama kalinya, kisah perjuangan luar biasa dari seorang perawat bernama Ibu Rabiah dikenal luas masyarakat melalui film dokumenter pendek, Suster Apung.

Dua tahun sebelumnya, sineas dari Makassar, Arfan Sabran, sudah mengikuti sepak terjang Ibu Rabiah memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pulau-pulau yang tersebar di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sesungguhnya Ibu Rabiah sudah bertugas sejak 1978 dan meski sudah pensiun sebagai ASN, ia masih mengabdikan ilmunya hingga hari ini.

Nyaris berselang 20 tahun sejak Arfan pertama kali mengikuti Ibu Rabiah, film dokumenter panjang, Ininnawa: An Island Calling pun dirilis. Dan kita dipersilakan kembali oleh Arfan melihat kehidupan Ibu Rabiah secara lebih lengkap, disajikan dalam storytelling yang asyik diikuti, dengan aspek teknis yang jauh lebih memikat dan dengan satu kejutan menarik: bahwa kini anak perempuan satu-satunya dari Ibu Rabiah bernama Rahmi atau Mimi juga mengikuti jejak dari ibundanya.

Maka kita melihat bagaimana Rabiah yang kini sudah berumur 75 tahun namun masih dengan semangat anak muda 25 tahun melayani masyarakat di pulau. Ia masih tampak gesit, luwes berkomunikasi dengan masyarakat [sesungguhnya ia penutur bahasa Bugis namun ia juga bisa berbahasa Makassar dan Mandar dengan baik] dan belum ada tanda-tanda menunjukkan bahwa ia rela untuk pensiun. Ia siap dipanggil kapan pun di malam hari sekalipun, melayani masyarakat dengan segala macam penyakit yang masih sanggup ditanganinya.

Voltaire, penulis dan filsuf dari Prancis, suatu hari mengumandangkan sesuatu yang masih bergema hingga hari ini, “Saya tahu tidak ada orang-orang hebat kecuali mereka yang memiliki pengabdian besar pada kemanusiaan.” Mungkin Voltaire berujar seperti itu karena ia tahu bahwa ada harga besar yang harus dibayar atas nama pengabdian. Dan Rabiah sepertinya tahu itu sejak awal. Ketika memutuskan mengabdikan lebih dari separuh hidupnya di sektor kesehatan, ia harus mengorbankan salah satu hal paling berharga dari hidupnya: kedekatannya dengan Mimi.

Maka Mimi pun dengan berlinang airmata dan membuat penonton ikut menangis diam-diam bersamanya bercerita bahwa ia dan ibunya tak pernah dekat karena “pengabdian” itu. Sejak kecil ia dititipkan pada keluarga ibunya dan bahkan ia menganggap ibunya adalah bibinya. Ia menangis diam-diam ketika ibunya harus meninggalkannya dan akhirnya meninggalkan luka besar di hatinya yang kelak ditebus Rabiah ketika Mimi menjadi dewasa, menikah dan memiliki 3 orang anak. Dan bagi Rabiah dan Mimi, kredo “hidup adalah pengabdian” mengalir dalam darah mereka. Tanpa pernah diniatkan oleh Rabiah, kini Mimi menjadi penerus dari ibunya.

Dan hampir 20 tahun sejak Suster Apung dirilis, belum banyak perubahan yang terjadi di sektor kesehatan di pulau-pulau yang jauh dari Jawa. Sejak tahun 2020, Persatuan Perawat Nasional Indonesia [PPNI] mulai mendorong pemerintah agar bisa mengadopsi program global “One Village One Nurse [Satu Desa Satu Perawat]”. Begitupun regulasi terkait ada di tangan Kementerian Kesehatan yang punya andil besar dalam mengimplementasi program ini secara merata ke seluruh Indonesia termasuk ke wilayah pulau-pulau yang selama ini ditangani Ibu Rabiah dan Mimi. Hingga hari ini belum ada penerus mereka kelak yang akan mengabdikan hidupnya untuk melayani masyarakat di pulau-pulau terpencil dengan gaji dan fasilitas seadanya. 

Padahal dalam sebuah Zoominar yang diselenggarakan PPNI pada Mei 2023 lalu, Ketua Umum DPP PPNI, DR Harif Fadhillah, S.Kp, SH, M.Kep, MH, mengungkapkan bahwa surplus perawat sesungguhnya sudah terjadi di Indonesia. Sementara dalam makalah berjudul Analisis Kebijakan Pemenuhan Pasar Kerja Tenaga Kesehatan di Tingkat Global yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 disebutkan bahwa dengan mengacu pada standar ketenagaan minimal, Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sebagian besar puskesmas sudah mengalami kelebihan tenaga perawat sejumlah 72.914 orang namun di lain pihak masih terdapat Puskesmas yang kekurangan staf dengan jumlah sekitar 4.413 perawat. Estimasi ini sudah memperhitungkan kebutuhan yang berbeda pada jenis puskesmas rawat inap dan non rawat inap, namun belum mempertimbangkan lokasi wilayah yaitu perkotaan, pedesaan, terpencil/sangat terpencil.

Saya pernah memproduseri film dokumenter panjang peraih nomine Film Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia 2011 berjudul Cerita Dari Tapal Batas. Salah satu protagonis dalam dokumenter tersebut adalah seorang perawat pria yang mengelilingi lima desa setiap 2 minggu untuk melayani masyarakat di kabupaten Entikong, salah satu kabupaten terluar di Indonesia yang berbatasan darat dengan Malaysia. Dengan masalah yang mirip, saya akhirnya memahami bahwa selama 78 tahun Indonesia, kita mengalami banyak masalah yang belum tertanggulangi secara tuntas hingga hari ini karena satu hal: Indonesia yang terlalu luas dan terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau.

Tapi kita tak bisa terus-terusan berharap bahwa dalam setiap satu dekade akan lahir seorang malaikat seperti Ibu Rabiah dan Mimi. Yang akan membaktikan lebih dari separuh hidupnya untuk melakukan kerja-kerja pengabdian. Melalui platform kita masing-masing, kita perlu terus mendorong pemenuhan hak-hak masyarakat di manapun di negeri ini termasuk di pulau-pulau terpencil terkait akses kesehatan yang layak. Dan melalui Ininnawa: An Island Calling kita dipaksa melihat bahwa urgensi itu nyata. Kita tak perlu menunggu Arfan melanjutkan kisah Mimi kelak dengan masalah yang sama dalam 20 tahun mendatang.

 

ININNAWA: AN ISLAND CALLING

Produser: Nick Calpakdjian, Mark Olsen

Sutradara: Arfan Sabran
</description>
					                </item><item>
						                <title>Lelaki Penindas, Perempuan Teraniaya </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/lelaki-penindas-perempuan-teraniaya-</link>
						                <description>Tahun 2005 Jerman bergolak dalam diam. Semuanya bermula dari kisah pedih (dan berakhir tragis) dari seorang perempuan muslim berusia 23 tahun bernama Hatun Surucu. Delapan tahun terkurung dalam perkawinan nan hampa dengan sepupunya sendiri membuat Surucu berontak. Ia meninggalkan suaminya juga anaknya yang baru berusia 5 tahun. Karir pun dikejarnya demi bisa hidup mandiri. Jika ini terjadi di Jakarta, maka semuanya menjadi sah-sah saja. Namun ketika hal ini terjadi dalam lingkup keluarga muslim (walaupun hidup di negara seliberal Jerman), persoalannya tak sesederhana itu. Surucu dinilai menodai kehormatan keluarga dan hanya nyawa yang bisa membayarnya. Ia pun harus meregang nyawa di tangan adik bungsunya yang menembakkan pistol kearahnya.

Feo Aladag begitu terkesima dengan kisah itu. Mantan aktris TV di Jerman itu pun melarutkan diri dalam meracik sebuah cerita yang terinspirasi dari kisah Hurucu. Dan lahirlah When We Leave yang meramaikan JIFFest 2010. Mencermati kisah ini memang mesti hati-hati. Karena ada cap “muslim” yang relatif sensitif ke sebagian penonton (terutama karena diputar di negeri dengan penduduk muslim terbanyak seperti Indonesia). Apalagi dalam kisah ini, lelaki dan perempuan muslim (dari etnis Turki) digambarkan sangat stereotipe. Lelaki cenderung berwatak penindas, sementara perempuan selalu menjadi pihak yang teraniaya.

Umay (Sibel Kekilli) juga sempat menjadi salah satu dari perempuan itu. Ia hampir menyerah pada keadaan, dengan perlakuan kasar yang diterimanya dari sang suami, Kader (Settar Tanriogen). Cem (Nizcam Schiller), putra cilik semata wayangnya yang lucu, yang menyadarkan dirinya bahwa ia harus bertindak. Ia tak boleh membiarkan dirinya dianiaya habis-habisan. Ketika semangat hidupnya hampir kendur, Cem-lah yang kembali menguatkannya. Tak ada jalan lain, ia harus keluar dari rumah.

Dan mulailah episode panjang kehidupan tragis Umay yang seperti tak berujung. Skenario rupanya menempatkan Umay sebagai obyek penderita, namun disaat bersamaan tampil bak pahlawan bagi sebagian penonton. Kepulangan Umay ke rumahnya membuat ayah dan ibunya murka. Tak sampai disitu, kakaknya pun melakukan teror fisik yang membuat miris. Disini Aladag mendorong cerita ke titik dimana penonton hampir tak tahan dengan segala penyiksaan yang diterima Umay. Untungnya memang Aladag yang mengerti betul latar belakang ceritanya tetap menjaga batasnya.

Maka When We Leave akan membuat penonton ternganga, kesal luar biasa dan menangis tertahan menyaksikan Umay yang seperti tak berhenti dirundung malang. Faktor penting yang membuat penonton berempati pada Umay juga ada di tangan Kekilli. Ia menafsirkan karakter Umay dengan pas. Tak lebih dan tak kurang. Ia meratap ketika dihina keluarganya namun tak sampai menghiba demi membuat penonton terenyuh. Kontak emosional antara dirinya dengan Schiller juga luar biasa. Kita, para penonton, dibuat percaya bahwa Kikelli memang adalah ibu Schiller yang mati-matian menjaga putranya itu.

Jika tak paham dengan latar belakang cerita ini, bisa jadi kita dengan gampang menuduh bahwa Aladag sebagai sutradara punya agenda dengan menggambarkan lelaki muslim dengan tradisi “pembunuhan demi kehormatan” itu. Sayangnya memang, hal itu betul-betul terjadi. Dan kita pun akhirnya mengutuk perbuatan itu. Tentu saja lelaki muslim tak bisa digeneralisasi sedemikian, namun ada kecenderungan penonton yang datang dengan wawasan yang tak cukup akan menyerap apa yang tersaji di layar tanpa melakukan filterisasi terlebih dahulu.

Dengan memilih mengangkat kisah ini saja, Aladag sesungguhnya telah menempuh resiko. Karena ia memilih fokus pada penggambaran satu keluarga muslim saja, tanpa memberikan karakter pembanding lainnya. Maka tak bisa dihindari jika ada sejumlah media (ataupun pihak) yang menuduh Aladag menyebarkan paham Islamofobia.

Di luar kontennya When We Leave sebagai sebuah karya audio visual harus diberikan apresiasi yang pantas. Aladag berhasil mengorkestrasikan semua elemen yang dipunyainya dengan baik. Ketika departemen skenario berhasil dikendalikannya, maka kategori akting menuntutnya memberi perhatian ekstra. Juga elemen lainnya seperti sinematografi yang bergaya dokumenter hingga musik yang minimalis.

Dan kisah lelaki penindas dan perempuan teraniaya inipun diakhiri dengan pedih oleh Aladag. Sebuah pendekatan beresiko, namun niscaya akan membuat gelisah para penontonnya ketika lampu di bioskop kembali menyala. Kegelisahan yang bisa jadi diniatkan oleh Aladag sebagai upayanya untuk membuat penonton tersadar bahwa masih ada tragedi perih yang terjadi diluar sana.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Kisah Komedi Pria Parobaya </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/kisah-komedi-pria-parobaya-</link>
						                <description>Ide segar memang susah dicari. Maka hal-hal yang sifatnya formulaik, terlebih jika dianggap berpeluang untuk sukses, selalu saja coba diulang. Maka rumus baku mencampur komedi dengan sentuhan family drama biasanya diprediksi akan melahirkan tontonan yang disukai segala usia. Anak-anak bisa menikmati meski mungkin tak paham sepenuhnya, dan orang dewasa pun bisa terhibur karenanya.

Formula ini dipunyai Old Dogs garapan sutradara Walt Becker. Sekilas film ini memang punya beberapa faktor yang dengan gampang bisa menarik perhatian. Faktor itu terutama ada di pundak Robin Williams dan John Travolta. Track record keduanya tak perlu diragukan. Keduanya sudah membuktikan mampu bermain sama bagusnya di drama maupun komedi. Maka banyak yang berharap dua aktor se-brilyan itu akan membuat sebuah film jadi lebih bagus.

Tapi apa betul? Well, Old Dogs bagaikan jauh panggang dari api. Memang disana-sini kita masih mendengar tawa keras penonton ketika menyaksikan kedua aktor itu bertingkah slapstik, tak ubahnya Warkop DKI ataupun Srimulat. Dan sayangnya penampilan mereka disini hanya sampai disitu saja. Skenario yang kering memang tak memberi mereka peluang untuk mengeksplorasi karakter. Lihat saja Travolta yang kadang terlihat salah tingkah ketika berakting.

Padahal premis cerita tentang dua sahabat lama yang tak mengerti tentang pentingnya keluarga menjadi materi yang bisa digodok untuk memunculkan tawa dan tangis dalam waktu bersamaan. Perhatikan bagaimana karakter yang diperankan Williams yang berusaha keras merebut hati dua anak kandungnya yang baru dikenalnya. Perasaan itu bisa sungguh nyeri, sayangnya memang skenario lebih fokus untuk membuat kedua tokoh utama jatuh terguling, memunculkan wajah aneh daripada mengeluarkan akting mereka yang mumpuni.

Dan Old Dogs akhirnya menjadi tontonan mengecewakan. Anak-anak maupun orang dewasa sekedar tertawa keras, tapi pulang dengan hati hampa.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Apapun Untuknya </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/apapun-untuknya-</link>
						                <description>Cukup banyak para moviegoers yang menganggap rendah ide pembuatan ulang alias remake. Karena sejauh ini, tak banyak remake yang berhasil membuat penonton terkesima. Alih-alih menyenangkan penggemar di film aslinya, remake justru membuat penonton membencinya. Apa boleh buat, remake harusnya tak dipahami hanya sekedar “film itu sukses dan kita harus membuat ulang agar bisa ditonton orang lebih banyak lagi”, seperti yang boleh jadi ada di kepala para petinggi studio Hollywood.

Jika telah menonton film Prancis produksi 2008 berjudul Anything For Her, kita paham mengapa sineas sekaliber Paul Haggis tergugah untuk membuat ulang film tersebut untuk pasar yang lebih besar (film tersebut tidak didistribusikan di bioskop Amerika, termasuk videonya sekalipun). Film itu sesungguhnya punya premis menarik namun agak susah untuk meyakinkan penonton. Anything For Her berkisah seorang suami yang mencari jalan demi membebaskan istrinya dari penjara. Sang istri dituduh melakukan pembunuhan atas bosnya. Dengan penyutradaraan mengagumkan dari Fred Cavaye dan kolaborasi akting menarik dari Vincent Lindon dan Diane Kruger, film itu mengejutkan sebagian besar penontonnya. Dan akhirnya premis yang tak sepenuhnya convincing itu terlupakan ketika beragam elemen dari filmnya berpadu harmonis demi sebuah pencapaian sinematik.

Maka Paul Haggis pun membuat ulang film tersebut menjadi The Next Three Days. Yang sungguh disayangkan adalah Haggis menerjemahkan kisah film secara mentah-mentah. Hampir tak ada ide baru yang dikonstruksikannya dalam film yang dibintangi oleh Russell Crowe dan Elizabeth Banks ini. Apa boleh buat, remake sekali lagi membuat moviegoers hanya merasakan deja vu semata.

The Next Three Days memotret kisah pasangan John Brennan (Russell Crowe) dan istrinya, Lara (Elizabeth Banks). Semuanya berawal dari sebuah jamuan makan malam. Acara yang awalnya berlangsung santai tiba-tiba menghangat berkat adu argumen Lara dan bosnya (yang hadir bersama suaminya). Penonton boleh jadi mengira argumen itu hanya berakhir sampai disitu. Ternyata itulah awal dari malapetaka berkepanjangan dari John dan Lara. Di sebuah pagi yang cerah dan damai keesokan harinya, John dan Lara mengawali hari mereka. Kedamaian itu dirusak dengan penggerebakan tiba-tiba rumah mereka oleh polisi. Ternyata Lara dituduh membunuh bosnya yang ditemukan tewas setelah acara makan malam itu usai.

Kehidupan John, Lara dan putra semata wayangnya, Luke (Ty Simpkins) seketika hancur berantakan. Lara tak terima dengan tuduhan yang membuatnya harus dipenjara. Karena depresi, Lara pun mencoba bunuh diri. John terkesiap dan sadar bahwa ia harus mengambil tindakan. Ia sungguh menyayangi istrinya, ibu dari putra yang dikasihinya. Maka ia pun merancang sebuah rencana yang sungguh jelas tak pernah terpikirkan sedetik pun sebelumnya dalam benaknya. Ia harus mencari cara untuk meloloskan istrinya agar bisa keluar dari penjara.

Beruntunglah mereka yang belum menonton Anything For Her ketika menikmati The Next Three Days. Karena boleh jadi sungguh bisa menikmati kisah yang sebenarnya tragis dan sedih ini, sekaligus memberi simpati mendalam pada perjuangan keras yang dilakukan John. Padahal penonton tahu bahwa apa yang dilakukan John melanggar hukum. Namun itulah kenyataan hidup, bahwa keadilan sering terabaikan dan akhirnya manusia tak berdosa pun jadi korbannya.

Dibanding karya-karyanya sebelumnya, terutama Crash, The Next Three Days jelas merupakan sebuah langkah mundur bagi Haggis. Memang film ini masih bisa dinikmati sebagai tontonan thriller mengasyikkan, namun karena tak ada inovasi didalamnya maka film ini hanya jatuh sebagai tontonan hiburan belaka.

Laiknya remake, maka tak bisa terhindarkan untuk membuat perbandingan dengan karya aslinya. Dan paduan akting Crowe dan Banks juga dinilai masih kalah jauh dari yang diperlihatkan Lindon dan Kruger. Tapi masih ada sisi menarik dari The Next Three Days yang menampilkan cameo Liam Neeson dalam satu adegan dan Brian Dennehy yang bermain di luar stereotipe karakter yang biasa diperankannya.

Nama besar memang kadang menjadi high hopes bagi pecintanya. Haggis pun akhirnya harus mengalaminya. Karena ditangani oleh sineas sekaliber dirinya, maka The Next Three Days pun jadi terasa tak ada “apa-apanya”.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Berdansa Dengan Kematian </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/berdansa-dengan-kematian-</link>
						                <description>Di suatu siang yang terik. Sersan Matt Thompson (Guy Pearce) sedang mencoba menjinakkan sebuah bom. Dengan keahlian yang dimilikinya, ia bisa menyelesaikan pekerjaan menantang maut itu. Tapi maut memang tengah bersahabat dengannya. Maut itu ada di sebuah handphone yang ketika ditekan nomor-nomornya berbuah ledakan maha dahsyat. Dan Thompson pun terdiam untuk selamanya.

Di saat lain, seorang lelaki Irak dengan tubuh penuh terbungkus bom. Sersan William James (Jeremy Renner) terpaku melihat begitu banyak bom di tubuh lelaki itu namun begitu sedikit waktu yang dipunyainya. Ia pun meminta maaf karena tak bisa menolong. Kamera pun merekam kejadian yang membuat bulu kuduk berdiri ketika sang lelaki yang mengucapkan kalimat syahadat diterjang bom di tubuhnya sendiri hingga luluh lantak.

Baik Thompson maupun James adalah dua sosok penantang maut. Mereka begitu akrab dengan kematian. Bukan karena ingin memuaskan adrenalin, melainkan demi menyelamatkan nyawa manusia lainnya. The Hurt Locker yang dibesut sutradara wanita Kathryn Bigelow membahas profesi ‘mencengangkan’ itu dengan lihai, tanpa terengah-engah dan tanpa membuat jeda.

Kita disuguhkan pemandangan mengerikan di Irak. Begitu banyak bom ditanam di tempat umum. Dan ketika bom itu meledak, ia seakan tak peduli jika ia merenggut sekian banyak makhluk yang tak berdosa. Maka wajar saja jika dua rekan James, Specialist Owen Eldridge (Brian Geraghty) dan Sersan JT Sanborn (Anthony Mackie) merasakan sesak menghimpit manakala bertugas. Sementara James terlihat begitu tenang. Tapi The Hurt Locker memberi kesempatan pada kita, penonton, melihat karakter manusia yang berlapis. James yang cool terguncang jiwanya ketika menemukan seorang anak yang tewas dengan bom dijahit didalam perutnya!

Film ini menjadi begitu hidup, rasanya berkat riset yang luar biasa detil. Juga menjadi begitu hidup berkat ‘kedekatan’ Bigelow dengan material yang dipunyainya. Maka feel film ini pun bagaikan dokumenter karena begitu realistisnya kamera merekam setiap gerakan para ‘penantang maut’ itu, berfokus pada desah nafas mereka ketika bertugas dan melihat lebih dalam sisi humanisme mereka. Dan para pemain pun tak lagi sekedar berakting, tapi ‘menjadi’ karakter yang diperankannya. Trio Renner-Mackie-Geraghty menjadi ujung tombak The Hurt Locker disamping tentu saja skrip nan matang dan pengarahan yang luar biasa dari Bigelow.

The Hurt Locker berpotensi mengguncang bawah sadar kita. Mempertanyakan lagi arti kematian dari kehidupan. Arti peperangan dari perdamaian. Apa yang harus dimenangkan oleh peperangan jika nyawa begitu banyak melayang? Jika sebutir peluru sebanding harganya dengan sebuah nyawa?
</description>
					                </item><item>
						                <title>Perang Untuk Siapa?</title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/perang-untuk-siapa</link>
						                <description>Perang di berbagai belahan dunia selalu menarik perhatian. Ribuan jiwa selalu jadi korban, harta tak terkira akan terkuras. Di sisi lain, kadang-kadang mereka yang bertarung di medan perang tak mengerti bahwa sebenarnya mereka berperang untuk siapa. Lebih mendalam lagi, berperang untuk apa?

Seperti Roy Miller (Matt Damon) yang awalnya diterjunkan ke Irak tanpa pretensi. Ia menyadari diri sebagai tentara yang dikirimkan kesana untuk membela negara. Dalam perjalanannya, Roy mendapati bahwa ketika ia dan pasukannya dikirim ke salah satu tujuan untuk menggrebek sesuatu demi menemukan senjata pemusnah dan semacamnya, selalu saja mereka tak mendapati apapun. Hal ini membuat Roy penasaran. Ia curiga bahwa terjadi kebocoran tingkat tinggi yang membuat ia dan pasukannya selalu gagal mendapati sesuatu. Maka ia pun mencoba mengendus sesuatu dan mendapati fakta mencengangkan nan busuk terhidang di depan hidungnya.

Reuni Matt Damon dengan Paul Greengrass ini bisa jadi cukup ditunggu-tunggu. Namun bisa jadi pula penonton yang sudah memirsa Bourne Supremacy dan Bourne Ultimatum menyiapkan diri untuk memirsa hal-hal yang sifatnya formulaik. Greengrass, sebagaimana terlihat di 2 film Bourne, berciri khas dengan kamera handheld yang bergerak dinamis dan kadang memusingkan, pacing super cepat dan musik yang menambah atmosfer film. Ini tentu saja bukan kelemahan, namun bisa menjadi faktor yang mengurangi keasyikan menonton Green Zone. Karena penonton mungkin sudah hafal dengan ciri itu dan jadinya tak mengejutkan lagi.

Tapi jangan khawatir. Dynamic duo Damon dan Greengrass masih memberi kita tontonan menghibur sekaligus digarap dengan kualitas tinggi. Secara visual, Green Zone mungkin tak terlalu berbeda dengan 2 film Bourne tersebut. Namun kali ini Grenngrass memberi perhatian lebih pada cerita. Bersama Brian Helgeland, ia mengolah buku berjudul Imperial Life in the Emerald City karya Rajiv Chandrasekaran. Dan ia menggarisbawahi bahwa Green Zone bukan adaptasi dari buku tersebut namun ia menjadikan buku tersebut sebagai latar belakang filmnya.

Dan rupanya inilah kejutan yang dibawa Greengrass kali ini. Ia mencampur informasi faktual dengan fiksi. Ia mengaburkan beberapa karakter yang ada dalam buku tersebut. Dan lebih jauh lagi, ia mengembangkannya sehingga Green Zone tak hanya menjadi thriller spionase ber-oktan tinggi, namun juga membongkar persekongkolan busuk yang mengorbankan sekian banyak korban jiwa baik dari pihak Irak maupun Amerika.

Dengan materi yang dipunyainya, Greengrass dan Helgeland memilih fokus pada peristiwa, dan memilih untuk fokus pada beberapa karakter saja didalamnya, dan itulah yang membuat cerita jadi padat dan gampang dimengerti. Maka meski kita terengah-engah mengikuti kecepatan Greengrass, ia tak membiarkan kita menjadi tak tahu apa yang sebenarnya disajikannya di layar.

Kejutan lainnya yang membedakan Green Zone dari film berlatar perang Irak lainnya adalah ketegasan Greengrass mempertanyakan makna perang. Sebenarnya tentara Amerika disana berperang untuk siapa? Ribuan jiwa rakyat Irak yang tewas itu berkorban untuk siapa? Dan itulah makna perang yang selalu mempunyai dua sisi. Sisi baik demi kemerdekaan dan kemaslahatan rakyatnya dan sisi jahat ketika perang diperalat segelintir oknum demi mencapai tujuannya sendiri.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Tentang Kesetiaan Tak Tertandingi </title>
						                <link>https://resensi.my.id/berita/detail/tentang-kesetiaan-tak-tertandingi-</link>
						                <description>Di tengah maraknya teknologi yang memungkinkan segalanya, terkadang kita merindukan hal-hal sederhana. Dalam dunia film, sesekali kita juga memerlukan kisah humanis, yang menyentuh hati, membuat kita tetap percaya akan kemanusiaan. Membuat kita meyakini akan hal-hal mendasar seperti cinta dan kesetiaan.

Marley & Me yang memotret kisah seekor anjing bernama Marley yang mengiringi kehidupan pasangan muda hingga mempunyai tiga anak. Film dengan citarasa Hollywood itu diangkat dari kisah nyata dan dipuji karena berhasil memberi sentuhan berbeda dari sekian banyak film yang diproduksi. Karena selama ini sejumlah film yang menggunakan tokoh anjing biasanya hanya untuk kepentingan komedi dan itu tak masalah sebenarnya karena memang dibuat untuk konsumsi anak-anak.

Setipe dengan film Marley & Me adalah film berjudul Hachiko : A Dog’s Story. Ini kisah nyata yang jauh lebih dramatis dan bukan untuk konsumsi anak-anak. Hachiko adalah anjing ras Akita asli Jepang yang lahir pada November 1923 di Odate, Jepang. Dalam filmnya sendiri yang bersetting masa kini, Hachi ditemukan oleh Professor Parker Wilson (Richard Gere, yang makin matang berakting) di stasiun kereta. Awalnya tak berniat untuk memeliharanya, namun kehadiran Hachi membuat suasana rumah menjadi lebih tentram. Sang istri, Cate (Joan Allen) yang tadinya bersikeras memaksa Parker agar mencarikan rumah untuk Hachi akhirnya sadar bahwa bisa jadi Hachi memang ditakdirkan untuk ditemukan oleh Parker.

Maka Hachi pun menghiasi hari demi hari Parker. Hachi setia mengantar Parker ke stasiun dan menunggunya ketika kembali. Begitu terus setiap hari. Sampai suatu ketika Parker tak kembali. Dan ia memang tak akan pernah kembali, namun Hachi setia menunggunya di tempat yang sama selama 10 tahun!

Meski sama-sama bercerita tentang anjing seperti halnya Marley & Me, Hachiko : A Dog’s Story dituturkan Lasse Halstrom tanpa tergesa-gesa. Ia memberi banyak waktu untuk memperlihatkan ke penonton adanya keterikatan emosi antara Parker dan Hachi. Mungkin sebagian orang merasa film ini agak lambat, tapi percayalah segala penantian dan kesabaran Anda akan terbayar tuntas di akhir film. Halstrom yang duduk di kursi sutradara juga memberi sentuhan menarik dengan penggambaran di beberapa adegan dari point of view Hachi. Rasanya itu cara Halstrom untuk mendekatkan kita pada Hachi, untuk mengerti apa isi hatinya.

Maka wajar saja jika akhirnya film ini berhasil menyentuh hati para penontonnya. Bahkan mungkin bagi mereka yang tak tertarik pada anjing sekalipun. Dengan perlahan Halstrom membangun koneksi emosional antara Parker dengan Hachi, juga antara kita, penonton, dengan Hachi. Penonton pun menyayangi Hachi, mengagumi kesetiaannya yang tak tertandingi hingga akhir hayat.

Koneksi emosional itu pulalah yang bisa mengelus-elus perasaan, bahkan membuat penonton pun tak hanya menangis, tapi tersedu-sedu. Tak banyak film yang bisa membuat penonton ‘lupa diri’ seperti ini. Dan Hachiko : A Dog’s Story memang menyadarkan kita bahwa binatang saja bisa mempunyai rasa kasih sayang nan tulus. Mengapa kita tidak?
</description>
					                </item></channel>
  	</rss>